Fragmen Sore Hari
Pertama kali aku
bertemu dengannyaadalah saat usianya genap 14 tahun. Rara namanya, dia anak
yang ceria dan selalu tersenyum ramah pada siapa saja. Rara juga termasuk
dewasa untuk ukuran anak seumur dia. Di samping semua itu aku menyukai matanya.
Matanya indah, ada ketulusan yang memancar dari dalam matanya. Aku merasa
sangat beruntung bisa mengenal Rara.
Hari-hari terlewati
dengan tawa dan canda Rara. Dia selalu bisa membuat semua orang tersenyum
seberat apapun masalah orang tersebut. Aku berharap bisa terus melihat senyum
Rara. Saat itu aku belum menyadari ancaman badai yang menuju kearah kami dengan
cepat.
Pagi itu ulang tahun
Rara yang ke enam belas. Aku merasa sangat bersemangat hingga tak dapat tidur.
Tapi ada yang aneh, Rara tak juga bangun. Aku sudah memanggilnya berkali-kali
tapi dia tetap tidak bangun. aku berteriak memanggil pertolongan, tapi tak ada
suara yang terucap dari mulutku. Aku merasa panik, dan hanya berdoa semoga ada
yang memeriksa kamar Rara. Beberapa saat kemudian doaku terjawab, Bibi Rara
datang membangunkannya. Bibi sangat terkejut dan memanggil Paman lalu kami
bergegas menuju rumah sakit terdekat. Apa yang sebenarnya terjadi pada Rara?
Tuhan, semoga dia baik-baik saja...
Setelah dua jam
menunggu akhirnya dokter keluar dari ruang UGD. Betapa terkejutnya aku ternyata
ini bukan pertama kalinya Rara seperti ini. terlebih ternyata Rara menderita
radang di otaknya yang beresiko menyebabkan pertumbuhan mentalnya terhambat.
Tuhan kenapa? Kenapa harus pada Rara?
Aku mendengar suara
Bibi bertengkar di telepon dengan seseorang. Bibi kedengarannya Rara. Paman
berusaha menenangkan Bibi, kulihat muka beliau sangat sedih. Aku harap bisa tau
dengan siapa Bibi menelepon dan mengapa ia merasa sedih. Malam harinya saat
akan tidur aku mendengar percakapan Bibi dan Paman. Sungguh aku tak bermaksud
untuk mencuri dengar, tapi aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.
“Bagaimana mungkin
mereka bersikap seperti itu! Apa mereka tidak mengerti seberapa parahnya sakit
Rara?! Orangtua macam apa mereka?! Lebih memilih rapat dengan kolega dari pada
menemani putrinya yang sakit!”. Terdengar suara Bibi yang penuh kegeraman. Jadi
orang tua Rara tidak bisa datang? Padahal Rara sangat merindukan mereka.
Rasanya aku juga ingin marah pada mereka!
“Sssh... sudah, mungkin
saja mereka memang benar-benar tidak bisa pulang. Yang penting kita harus
merawat dan menghibur Rara agar dia tidak kesepian”. Ujar paman berusaha
menenangkan Bibi. Ya Paman benar, percuma saja kami memprotes kelakuan orangtua
Rara. Yang penting sekarang adalah kesembuhan Rara. Sungguh, aku tidak mau
kehilangan senyum di wajah ceria Rara.
Kulihat tubuh Rara
dibalik jendela ICU dengan mata nanar, bermacam-macam selang infus menempel di
tubuhnya serta sederet alat berjajar di dekatnya. Rasanya aku tak tega melihat
sosoknya terbaring tak berdaya dan harus menghadapi semua penderitaan ini.
Tuhan, kenapa bukan orang lain saja? Rara masih terlalu muda untuk mengalami
hal ini. dia terlalu baik hati untuk merasakan hal ini. Tiba-tiba mataku terasa
panas. Seperti inikah rasanya menangis?
Sudah enam hari Rara
belum juga sadar. Paman dan Bibi bergantian menjaganya. Hari ini orangtua Rara
berjanji akan datang dan menemaninya. Tapi hingga hari beranjak sore mereka
berdua belum juga datang. Sekuat tenaga kuhilangkan rasa kesal dan marah.
Bagaimanapun juga mereka orangtua Rara, dia pasti tidak ingin jika aku membenci
mereka berdua.
Sekarang sudah memasuki hari kedelapan Rara
pingsan. Aku hanya mampu berdoa untuknya dan mengharapkan kesembuhannya. Hari
ini Rara dipindahkan ke ruang perawatan khusus. Aku menunduk kearah tubuhnya
yang semakin lama semakin kurus dan lebam dimana-mana akibat infus. Lalu
tiba-tiba aku melihat jari-jari tangan Rara bergerak. Dengan penuh harap aku
melihat kearah wajah Rara dengan penuh harap. Perlahan, mata Rara terbuka dan
ia tersenyum padaku. Kutahan air mata yang hendak tumpah, tidak aku tidak boleh
menangis. Aku harus tegar dihadapan Rara agar dia tidak sedih. Kemudian Bibi
dan Paman memeluk Rara. Mereka bersyukur Rara sudah siuman lagi. Ah, Rara semua
orang disini sangat menyayangimu apa kau tahu itu?.
Dua hari kemudian Rara
mengajakku berjalan-jalan ke taman rumah sakit ditemani oleh Bibi. Sore itu
hujan baru selesai turun dan pelangi terlihat di ufuk. Tiba-tiba Rara melihat
ke arahku dan tersenyum. “Kau tau? Aku sudah tau kalau hidupku mungkin tak lama
lagi, tapi aku tidak sedih. Karena ada saatnya kita harus tidur untuk waktu
yang lama. Sama seperti pelangi itu, adakalanya saat dia menghilang dan ada
saatnya dia muncul membawa keindahan”. Ucapannya sungguh mengejutkanku dan aku
hanya mampu diam.
“Yang aku takutkan
adalah orang-orang yang menyayangiku akan merasa kehilangan dan bersedih.
Maukah kau menghibur mereka seperti kau menghiburku?”. Ujarnya padaku. Sekali
lagi aku hanya terdiam. Karena bagaimanapun tidak ada yang bisa menggantikan
kehadiran Rara disisi kami. Di belakang Rara, Bibi sudah menangis.
“Katakan pada mereka
tidak usah menangisi kepergianku karena aku akan selalu ada disisi mereka”. Aku
benar-benar tidak bisa menjawabnya. Yang mampu aku lakukan hanya diam dan
menahan air mataku agar tidak jatuh.
“Jangan sedih, lihatlah
pelangi itu, dia hanya muncul sesaat tapi dia tetap tersenyum dan menghibur
kita. Bukankah lebih indah jika kita tersenyum seperti dia?”. Aku menatap Rara
dia sedang tersenyum dan di matanya aku melihat pelangi terindah. Tanpa sadar
aku mengangguk. Aku akan melakukan apa pun untuk melihat senyumnya yang indah
lebih lama lagi.
Setelah itu kesehatan
Rara berangsur-angsur membaik dia bahkan diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Kami semua bahagia dan mulai berharap kalau dia akan sembuh. Pagi itu Rara
tiba-tiba mengajakku ke taman tempat kami biasa bermain. Aku menurutinya dengan
gembira dan berharap dia benar-benar sudah sehat. Kami berlari, berayun,
meluncur dengan semagat seperti saat Rara belum sakit. Lalu kami pulang dengan
menyanyi sepanjang jalan. Semoga saja kami bisa terus seperti ini.
Sore harinya kami akan Check Up ke rumah sakit tapi Rara tak
juga bangun. Ada apa? Bukankah dia sudah sembuh? Kenapa begini lagi?. Kami
bergegas membawanya kerumah sakit. Setelah satu jam dokter muncul dari dalam
ruangan. “Dok, bagaimana keadaaan Rara?” tanya Paman, rasa cemas tergambar
dengan jelas di wajahnya meski dialah yang menyuruh kami untuk tetap tenang. “Saat
ini kondisi pasien sangat kritis kami perlu meminta persetujuan bapak untuk
memberinya penanganan yang lebih lanjut. Tapi harus saya katakan pada anda
bahwa resikonya sangat tinggi. Pasien bisa sadar tapi mungkin dia akan
mengalami gangguan mental setelah pengobatan ini yang akan membuatnya lamban
nanmun jika anda tidak menyetujuinya nyawa pasien dalam keadaan terancam. Apa
keputusan anda?”. Paman terdiam cukup lama. Kulihat itu adalah saat yang sangat
sulit baginya. Apa dia harus membiarkan Rara menjalani operasi atau...
“Operasi saja dok,apa
pun yang terjadi nantinya kami ikhlas”. Kata Paman akhirnya. “kalau begitu
silahkan bapak menandatangani formulir di bagian administrasi. Saya akan
memulai operasi satu jam lagi”. Aku lihat wajah Paman menunjukkan kepasrahan.
Dia lalu menhajak Bibi untuk salat berjamaah di masjid dan berdoa untuk
kesembuhan Rara. Tak terasa satu jam telah berlalu ini saatnya Rara menuju ke
meja operasi. Ku tatap tubuh Rara yang dibawa ke Ruang dengan pntu yang menutup
di hadapanku menyisakan kesunyian yang panjang.
Sepertinya aku tertidur karena lelah. Saat aku bangun terdengar
hiruk-pikuk di sekelilingku. Apa yang terjadi?. “Rara sudah bangun” kata Paman
pada Bibi. Benarkah itu? Syukurlah, aku harap dia baik-baik saja.
“Bagaimana keadaannya?”
tanya Bibi dengan wajah cemas. Ya, bagaimana keadaannya? “Seperti yang telah di
katakan oleh dokter tadi” ujar Paman dengan wajah sedih.
“Oh, benarkah itu? Benarkah? Ke.. kenapa..??
kenapa harus begini?” Bibi menangis sesenggukan.
“Sudahlah, apa pun
keadaan Rara, dia tetap Rara. Kita harus tetap menyayanginya”. Aku baru
mengerti apa yang terjadi. Ah, Rara.. kenapa kau harus mengalami ini? kau
begitu baik dan muda untuk mengalaminya.. Ku tahan air mata yang mendesak
keluar. Tidak, aku sudah berjanji pada Rara untuk tidak bersedih. Aku tidak
boleh menangis.
Tiga hari kemudian
orang tua Rara datang. Ibu Rara menangis melihat kondisi Rara yang tak bisa
apa-apa. Rara seolah berubah menjadi anak kecil yang tidak mengerti apa pun.
Dia hanya diam di kursi roda saat ibunya memeluk dan menangis di depannya.
Menyesali keterlambatannya. Aku merasa sangat marah dan kecewa. Kenapa? Kalau
memang mereka menyayangi Rara kenapa mereka tidak datang waktu Rara masih belum
jadi seperti ini? aku begitu marah hingga ingin sekali membenci mereka. Tapi
lagi-lagi aku ingat itu bukan hal yang diinginkan Rara dariku. Rara ingin aku
menghibur orang-orang yang menyayanginya bukannya membenci mereka.
Paman dan Bibi hanya
diam melihat semua itu. Aku rasa mereka juga merasa berat untuk membiarkan saja
apa yang telah dilakukan oleh orang tua Rara. Aku khawatir jika mereka
benar-benar tidak bisa memaafkan mereka. Tapi sepertinya kekhawatiranku itu tak
beralasan karena kemudian ku lihat Bibi merangkul pundak ibu Rara dan
menenangkannya. Paman berdiri di samping mereka dan berkata bahwa kita hanya
harus mengikhlaskan apa yang terjadi nanti pada Rara. Aku menerawang jauh. Apa
yang akan terjadi padaku bila nanti Rara telah tiada?.
Hari- hari berikutnya
kami berusaha untuk terus menemani dan menghibur Rara. Meskipun dia tidak
mengerti apa yang kami lakukan atau mampu merespon kami tapi kami tetap
berharap akan adanya kemajuan kondisi Rara. Seringkali saat aku melihat Rara
dengan air liur yang menetes dan mata yang berputar kesana kemari aku merasa
sangat sedih. Aku tidak bisa lagi menikmati senyumnya yang ceria atau pelangi
indah di matanya. Tuhan, kenapa bukan aku saja yang mengalami itu semua? Paman
dan Bibi selalu membacakan ayat-ayat Al-Qur’an pada Rara. Hanya saat itulah
Rara merespon dengan meneteskan air mata.
Malam itu kondisi Rara
memburuk. Dia tidak berhenti kejang-kejang. Paman dan Bibi serta Ibu Rara
menunggu dengan cemas dan takut.
“Maaf pak, kami sudah
berusaha sekuat tenaga tapi Tuhan berkehendak lain”. Kata-kata dokter tersebut
bagaikan petir di siang bolong untukku. Apa? Apa yang dia bilang tadi? Rara..
Rara sudah.. Ah tidak mungkin!!! Pasti ada kesalahan! Tangis perlahan Bibi dan
teriakan kesedihan Ibu Rara-lah yang menyadarkanku bahwa semua ini nyata, Rara
telah meninggalkan kami semua. Kesedihan bagai menghujam-hujam hatiku. Rara,
salahkah jika aku menangis? Rasanya aku tidak sanggup memegang janjiku padamu.
Berjanji untuk tidak menangis dan menghibur orang lain saat kau tiada adalah
hal yang mustahil untukku. Rara, apa yang harus aku lakukan? Apa?
“kita harus merelakan
kepergian Rara agar dia tenang disana. Dia pasti tidak ingin melihat kita
bersedih seperti ini. mari kita bergegas menyiapkan pemakaman yang layak untuk
Rara. Tidak adil rasanya jika kita membiarkan dia menunggu terlalu lama”.
Kata-kata Paman menyentak kami semua. Ya, kami tidak boleh bersedih! Itu hanya
akan membuat Rara sedih dan kecewa. Maafkan aku Rara, aku tidak akan pernah lagi
berpikir untuk mengingkari janjiku.
Prosesi pemakaman Rara
berlangsung diiringi dengan hujan gerimis seakan-akan langit ikut bersedih
karena kepergiannya. Tiba-tiba aku teringat akan perkataan Rara tentang
pelangi. Rara taukah kamu, kau adalah pelangi
bagi kami? Pelangi yang tak akan pernah hilang dari hati kami meskipun kau tak
berada disisi kami lagi. Ya, Rara kau adalah pelangi sekaligus sahabat baikku.
Bersama redanya hujan kuucapkan selamat tinggal pada nisan di makammu. Aku tak
lagi sedih karena aku tahu kau akan selalu hidup sebagai kenangan indah di
hatiku.
Sampai jumpa, Rara...
Epilog:
Saat ini aku sedang
bermain bersama Emy, teman baruku. Apa aku membuang Rara? Tidak, aku
melaksanakan janjiku padanya. Karena Emy adalah adik satu-satunya Rara. Umur
mereka berbeda lima tahun. Rara menyayangi Emy, begitupun sebaliknya. Aku
sebenarnya baru tahu jika Rara mempunyai seorang adik. Karena selama ini aku
tidak pernah melihat adik Rara. Ternyata orang tua Rara bercerai dan Emy ikut
dengan ayah Rara. Mereka tidak pernah bertemu selama enam tahun.
Dan ada satu lagi
berita baik, Ibu Rara memutuskan untuk berhenti bekerja di luar negeri dan
memilih pekerjaan yang bisa membuatnya memperhatikan Emy. Sepertinya kepergian
Rara membuatnya menyadari batapa pentingnya seorang anak.
Emy mengajakku pergi ke
taman bermain yang dulu merupakan tempat bermainku dengan Rara. Awalnya aku
mengira akan sedih mengingat betapa banyaknya kenanganku bersama Rara disana.
Tapi ternyata setelah aku mencobanya aku malah merasa bahagia karena aku
mengingat semua hal menyenangkan yang aku lakukan bersama dengan Rara dulu.
Saat itu sore hari dan
hujan baru selesai turun. Aku mengingat dengan jelas saat bersama dengan Rara
di taman rumah sakit suasananya sama seperti ini. perlahan ku lihat di ufuk
langit pelangi membiaskan sinarnya yang indah mengingatkanku pada pelangi di
mata Rara. Aku tersenyum, memang semuanya tidak akan sama tapi manusia selalu
berubah. Dan jika mereka menghadapi suatu ujian yang berat serta mampu
melewatinya maka saat itulah mereka bertambah dewasa.
Aku bersyukur telah
mengenal Rara, seorang gadis yang di dewasakan oleh keadaan dan bertekad kuat
serta seorang sahabat yang selalu menyayangiku apa adanya.
Semilir angin membelai
lembut wajahku. Desirnya seolah memainkan sebuah melodi yang telah kukenal
bertahun tahun, lagu yang di sukai oleh Rara
“Pelangi akan selalu ada meski dalam badai...”
Malang,24
April 2014
Azzura
Lazuardi
Komentar
Posting Komentar