LANGIT
KELABU MERAH
Aku terdiam menatap langit yang mendung tak bercahaya. Sia-sia usahaku
mencari hadirnya suluh sang mentari. Hujan gerimis perlahan turun diatasku,
tapi aku tetap diam dibawah deras guyuran air langit. Entah kenapa hari ini
langit menangis lagi. Seakan tak mau berseri. Tak pahamkah dia bahwa aku disini
menanti birunya kembali??
Hujan masih menusuk kulitku. Aku diam saja, kubiarkan langit menangis
diatasku. Mungkin langit ingin bersimpati padaku. Pada hatiku yang telah lama
membeku di pojok ruang gelap sempit hanya berteman sepi dan sunyi yang kian
hari menggerogoti sebuah rasa yang disebut bahagia.
Perlahan langkah kaki menyusuri setapak demi setapak tanah lumpur becek.
Menuju satu tempat untuk sekedar rehat badan yang masih menjelma makhluk
setengah manusia. Tiba di bawah naung atap perdu, ku raih bongkah kaca kecil di
lantai. Tidak aku bukan hendak merias wajah, karna aku telah lama beriaskan pilu
di wajahku. Aku hanya ingin tau sehampa apa wajahku hari ini? Ku lihat di kaca
raut wajah sosok antara setengah manusia.
Aku bukan
manusia, karena manusia tak pernah peduli hadirku. Kehadiranku adalah sebuah
malapetaka bagi mereka, neraka yang berjalan. Tapi aku juga manusia karena aku
terperangkap dalam tubuh manusia. Seorang wanita. Terang tak usah kau Tanya
lagi aku tak suka jadi makhluk paling
dibenci seantero jagad. Tapi takdirku selalu sulit. Sementara orang lain enak
bermanja di bawah bokong-bokong para babi busuk tukang makan uang. Tidak mereka
bukan tikus lagi, kini sosok mereka menjelma rahwana yang mencarut-marut negeri
sendiri.
Tak usah kau heran negeriku bukan negeri lagi. Yang ada hanya sungai darah
juga mayat anak busung lapar. Bahkan langit tak lagi biru disini semua kelabu
darah anyir… dan aku?? Hanya
makhluk setengah manusia yang mengais tong sampah mencari secuil makanan. Tapi
yang aku temukan hanya tulang manusia habis dimakan anjing-anjing rahwana.
Kemana langit
biru pergi???
Komentar
Posting Komentar