Pencarian
Asap mengepul dari
batangan rokok yang kuhisap pelan-pelan. Kunikmati setiap hisapan yang manis dan meyesakkan, berharap dengan begitu
gelisah ini lekas pergi dan menghilang. Kusesappahitnyasecangkir kopi hitam sembari
melihat derasnya hujan angin menampar-nampar jendela kamarku.Tik-tik-tik bunyi
jam memecah kesunyian malam kelam, sama seperti malam-malam yang lain. Kucoba menghitung
detik demi detik sekedar membunuh sepi. Pada detik keduabelas pikiranku
melayang mengingat kembali masa laluku masa
yang tak pernah ingin kuingat lagi. Masa saat aku masih kanak-kanak, waktu dimana aku selalu mencari seseorang . Setiap
malam aku selalu menantinya dating dan tersenyum padaku tapi kenyataannya dia tak
pernah muncul. Hingga akhirnya aku memutuskan jika dia tak dating dan mencariku,
akulah yang akan mencarinya. Saat itulah semuanya dimulai…
6 tahun yang
lalu
Sejak dulu saat pertama
kali aku mampu mengingat sesuatu, aku sadar sosok itu tak pernah ada di sisiku.
Aku terus berpikir dia hanya pergi untuk sementara, tapi kenyataannya hingga
lama ia tak jugamuncul. Saat aku menanyakannya pada Ibu, dia hanya bilang kalau
sosok itu sudah meninggal dan agar aku tak menanyakan hal itu lagi padanya. Betapa
sedihnya aku saat tahu aku tak akan pernah bisa bertemu dengannya.
Hari demi hari terus
berjalan dengan perasaan sedih yang masih terus kurasakan. Suatu hari aku tak sengaja
mendengarkan pembicaraan antara Ibu dengan Paman yang merupakan kakak Ibu. Sepertinya mereka sedang
bertengkar.Aku tak bermaksud mencuri dengar tapi aku ingin tahu apa yang
membuat Ibu dan Paman bertengkar. Aku mengendap-endap mendekati mereka dan mendengarkan.
“Sampai kapan kamu
mau merahasiakannya dari Shasha? Dia sudah cukup umur untuk tahu yang
sebenarnya!”. Kata Paman
“Itu terserah padaku!
Dia lebih baik tidak tahu apa-apa!” Balas Ibu tak kalah sengit
“Lebih baik untuk
dia atau untukmu?! Jawab saja
yang jujur kalau kamu sebenarnya takut! Kamu takut dia lebih memilih ayahnya jika
dia tahu ayahnya masih hidup!”
Perkataan Paman bagai
petir di siang hari untukku. Ayah masih hidup? Bagaimana mungkin? Kenapa Ibu bohong
padaku kalau begitu? Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepalaku tanpa henti.
“Cukup Win!!!
Shasha hanya akan sakit hati jika tau kalau ayahnya mencampakkan aku demi
perempuan lain!” Ujar Ibu dengan nada sedih.
Apa? Jadi ayah
mencampakkan Ibu?Apa ini Cuma mimpi? Kalau iyaTuhan, tolong bangunkan aku..
“Setidaknya biarkan
Shasha bertemu dengan ayahnya! Biar dia bisa memilih hidup denganmu atau dengannya.
Kamu tau kan kamu itu…”
“CUKUUUUP!!!!” Bentak
Ibu, “Jangan bicara lebih dari itu!”
“Aku mohon…
cukup… tolonglah..jangan beri tahu Shasha soal ini.. tolonglah..” Ratap Ibu.
“Terserah kamulah!
Ini alamat ayah Shasha yang sekarang. Kalau nanti kamu mau memberitahukannya pada
Shasha. Ingat lebih cepat lebih baik!” Kata Paman sambil beranjak pergi. Aku
lantas mengintip dan melihat Ibu mengenggam kertas itu erat-erat di tangannya. Diam-diam
aku berharap Ibu tak akan membuang atau membakarnya.
Hari-hari kemudian
aku berusaha mencari kesempatan untuk melihat alamat itu. Ibu terlihat curiga dengan
perilakuku yang mengendap-endap menuju kamarnya tapi aku selalu bisa memberinya
alasan.Pada sore itu Ibu sedang keluar membeli bahan makanan. Aku tak menyia-nyiakan
hal ini dan langsung menuju kamarnya. Aku mencari di laci meja tidur nihil,
lalu aku beranjak mencarinya di lemari. Seluruh tempat di lemari telah aku cari
tapi tak juga aku temukan kertas itu. Saat aku hendak menyerah, tiba-tiba tanganku
meraba ada sebuah celah di dalam lemari. Di dalamnya ada sebuah kertas. Dadaku berdebar-
debar, mungkinkah itu kertas yang aku cari? Perlahan aku tarik kertas itu keluar.
Dengan tangan gemetaran, aku membuka kertas itu disana tertulis dua kalimat ringkas,
RUSDI, Perumahan Kenanga Indah Blok T No. 21. Perlahan aku cermati kertas itu,
mencoba mencari jika ada hal lain yang terlewatkan olehku. Tapi isi kertas itu tetap
sama. Saat aku tengah melihat kertas itu tiba- tiba…
“SHASHA!!!” Bentakan
Ibu membuat kertas di tanganku jatuh kelantai. Dengan perlahan aku berbalik dan
menatap kearahnya.
Saat menatap wajahnya, untuk pertama kalinya aku merasa takut pada Ibuku.
“Apa yang kamu lakukan
disini Shasha?! Kamu membongkar lemari Ibu?!” Teriak Ibu padaku. Lidaku kelu, wajah
Ibu terlihat sangat berbeda dari biasanya. Tak ada lagi sosok Ibu yang
penyayang dan sabar.Yang tampak hanyalah wajahnya yang penuh kemurkaan. Ibu lalu
berjalan menghampiriku dan mengambil kertas yang aku jatuhkan kelantai tadi.
“Jadi ini yang
kamu cari?! Ini yang membuat kamu jadi tidak sopan dan berani membongkar lemari
Ibu?! Sebuah kertas yang berisi alamat seseorang yang tidak tau diri
hah?!”Perkataan Ibu membuat aku merasa sedih dan marah.
“Tolong Bu jangan
berkata seperti itu tentang Ayah! Bagaimanapun juga dia pernah menjadi suami Ibu
dan dia juga ayah kandungku Bu”
“Apa katamu? Ayahmu?
Ya, secara biologis dia memang Ayahmu. Tapi apakah dia tetap bisa disebut Ayah
jika kerjanya hanya selingkuh saja?! Dia bahkan tak peduli saat kamu lahir! Saat
aku menuntutnya untuk lebih memperhatikan keluarganya, kau tahu apa yang dia bilang?
Dia berkata begini padaku: urus saja sendiri, wanita gila! aku muak denganmu!”
Ibu berkata sambil terisak-isak. Tanpa sadar air mataku pun jatuh. Aku tak tega pada Ibu tapi
di satu sisi aku juga ingin menemui Ayah.
“Bu, tolonglah..
izinkan Shasha menemui Ayah… apapun yang terjadi nantinya Shasha tidak akan meninggalkan
Ibu. Shasha pasti akan kembali kesini, Shasha janji.” Pintaku pada Ibu.
“Ibu hanya tak ingin
kau sakit hati sepeti Ibu nak… Ibu takut kau akan terluka dan… dan… ah,
sudahlah..” Ujar Ibu
“Tidak Bu,
percayalah padaku. Aku akan baik-baik saja. Apa Ibu tega memutus ikatan Ayah
denganku? Bagaimanapun dia Ayah kandungku Bu…” Ibu masih menangis aku merasa sedih
karena yakin bahwa dia tak akan mengizinkanku untuk pergi.
“Baiklah nak.. tapi
berjanjilah pada Ibu bahwa kamu akan lekas pulang. Ibu kesepian nak kalau kamu tidak
ada”. Jawab Ibu
“Baik Bu,
terimakasih. Shasha berjanji akan cepat pulang” aku lalu beranjak pergi dan bersiap untuk peristiwa
yang tak akan pernah aku lupakan…
Sepuluh menit kemudian
aku sudah berada di perjalanan mengendarai sepeda motorku. Perasaanku bercampur aduk antara senang, sedih dan
takut. Senang karena akan bertemu Ayah, sedih karena Ibu selama ini bohong
padaku dan takut kalu ternyata Ayah tak mau menerimaku...
Semakin
dekat aku ke tujuan semakin membuatku berdebar-debar. Seperti apakah wajah
Ayah? Apakah aku mempunyai kemiripan dengannya? Seperti apa suaranya? Tinggikah
ia? Berbagai macam pertanyaan terus berkecamuk dalam benakku. Hingga aku tak
sadar kalau aku sudah sampai di perumahan yang kutuju. Segera saja aku berbelok
dan mulai menyusuri blok demi blok, mendekati kediaman Ayah...
Memasuki
Blok T kupelankan laju motorku, ku teliti satu demi satu nomor yang tertera di
depan rumah-rumah mewah itu. Di kejauhan kulihat sebuah rumah berpagar putih
dan bercat hijau. Pelan-pelan ku dekati rumah itu, nomor 21...
Jantungku
berdegup kencang, hingga aku takut dia bisa keluar dari dadaku. Ku coba untuk
menarik nafas dan tetap tenang. Ku amati disana ada sebuah mobil merk ternama
dan dua buah sepeda motor yang pastinya tak akan mampu ku beli sampai kapan
pun. Tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang disana. Pagar putih yang
menjulang tinggi menciutkan nyaliku. Apakah aku akan mundur setelah sampai
disini? Tidak! Bagaimanapun aku harus bertemu dengan Ayah!
Dengan
memberanikan diri ku hampiri pagar rumah tersebut dan menekan bel. Tidak ada
respon apa-apa lantas aku menekan bel lagi. Sekali lagi tidak ada respon tanpa
sadar aku menghembuskan nafas lega. Ternyata Ibu benar, aku belum siap untuk
bertemu dengan Ayah sekarang. Ku balikkan badanku dan hendak beranjak dari sana
saat aku mendengar suara pintu rumah di belakangku perlahan membuka...
Aku
melihat seorang perempuan yang usianya lebih muda dariku. Dalam hati aku
bertanya-tanya apakah dia anak Ayah dengan wanita lain itu? Kalau iya berarti
dia adalah adik tiriku.
“Cari
siapa kak?”. Suaranya membuyarkan lamunanku
“Apa
benar ini rumah Bapak Rusdi?” tanyaku
“Iya,
ada perlu apa ya sama Ayah saya?”. Jadi benar dia adikku, aku membatin.
“Saya
anak kenalannya mau menyampaikan pesan. Boleh saya bertemu dengan Bapak?” aku
berusaha menahan keinginanku untuk menyebutnya Ayah.
“Baiklah,
sebentar saya panggilkan” dia lalu masuk kembali kedalam rumah. Aku bisa
mendengarnya berteriak memanggil Ayah. Kemudian aku mendengar langkah-langkah
panjang dan berat menuju ke arahku. Sekilas ku lihat wajahku di kaca mobil,
tidak buruk, tapi aku terlihat agak pucat karena gugup.
Sosok tegap dan sedikit gemuk serta
wajah yang keras menyambutku. Inikah Ayahku? Apa yang harus aku katakan
padanya? Apa dia tahu kalau aku anaknya?
“Adik
siapa ya? Ada perlu apa dengan saya?” tanya Ayah padaku. Sungguh aku bingung
harus menjawab apa, apakah aku harus jujur atau bohong? Dengan meneguhkan hati
aku menjawab “Saya anak dari Ibu Ira”
Kata-kata
itu sepertinya merubah sikap Ayah. Wajahnya menunjukkan kemarahan.
“Untuk
apa kamu kesini ?! Apa yang kamu inginkan dariku? Aku
sudah tidak punya urusan lagi dengan kau atau Ibumu!” bentak Ayah. Aku terkejut mendengar kata-katanya,
bagaimana mungkin Ayah berkata seperti itu padaku?
“Ti..tidak
Yah.. aku Cuma ingin bertemu dengan Ayah... aku tidak punya maksud lain selain
itu” jawabku terbata-bata.
“Apa
kamu bilang? Bertemu? Jangan bohong! Katakan padaku apa yang diinginkan
perempuan itu dariku! Kamu kesini atas perintahnya kan? Asal tahu saja aku sudah tidak mau
berurusan dengan perempuan itu lagi!”
teriak Ayah padaku. Seketika itu juga aku terpaku seakan ada ribuan jarum yang
menusuk ke hatiku.
“Ayah!!!
Tolong jangan berkata seperti itu tentang Ibu! Sudah cukup sakit Ayah tak mau
mengakui aku sebagai anak, jangan Ayah hina Ibu! Ibu sudah banyak menderita dan
berkorban gara-gara Ayah!!” tanpa bisa ku tahan aku malah membentak Ayah.
“Mana
mungkin anak gak tahu sopan santun seperti kamu ini anakku! Asal kamu tahu saja
penyebab aku pergi bukan karena wanita lain tapi karena Ibumu! Ibumu itu sakit
jiwa!!!” kata-kata Ayah bagi berputar di kepalaku. Apa arti semua ini? Apa
benar Ibu sakit jiwa? Ini tidak mungkin kan? Ayah pasti berbohong!
“Sudah
sana cepat pergi atau aku panggilkan petugas keamanan! Aku gak sudi melihat
wajahmu disini! PERGIII!!!” bentak Ayah mengusirku. Perlahan ku beranjak pergi
dari rumah tersebut. Menyambut kesedihan pekat yang menggelayut tepat di depanku. Malangnya, kali ini aku tak lagi mampu
menghindar...
Ku
pacu motorku dengan kecepatan tinggi tanpa memperhatikan sekitar. Pikiranku
berputar-putar mengingat pertemuan singkat tadi. Ibu benar, seharusnya aku tak
bertemu dengan Ayah. Seharusnya aku sudah puas memiliki Ibu yang menyayangiku.
Tanpa sadar aku menangis, mengingat kata-kata Ayah bahwa aku bukanlah anaknya...
Tetes
demi tetes air mata terus berjatuhan meski aku telah berusaha menghentikannya.
Berbagai pertanyaan berputar-putar di benakku, tanpa ada jawabannya. Tiba-tiba
di sebuah perempatan mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kanan
dan menabrak motorku. Aku terpental jatuh dan terpelanting ke tanah. Tubuhku
menggesek kerasnya aspal, kepalaku terbentur
dengan keras hingga yang mampu kulihat
hanya kilasan bayangan. Saat akhirnya aku berhenti, seluruh tubuhku seperti
mati rasa selama lima detik. Kemudian, bagai air bah rasa sakit yang tak mampu
digambarkan menerjang saraf-sarafku. Aku menjerit tapi yang keluar hanya rintihan
pelan. Sebelum semua berubah menjadi gelap yang terakhir ku ingat hanya wajah
Ibu yang sedang menangis di depanku...
Dimana
ini? kenapa yang terasa disini hanya sakit dan sepi? Apa yang terjadi padaku?
Apa aku sudah mati? Tubuhku rasanya sangat sulit digerakkan, seperti telah
terpecah menjadi berkeping-keping. Aku mendengar suara-suara di sekitarku.
Suara siapa itu? Siapapun itu, tolong aku! Aku tak ingin berada di tempat gelap
dan sepi ini!
“Detak
jantung normal Dok, tekanan darah 80/100 kemungkinan gegar otak negatif”
terdengar suara wanita di dekatku. Apakah aku di rumah sakit? Perlahan aku
berusaha membuka mataku. Rasanya sangat berat, seperti ada beban berkilo-kilo
disana. Saat mataku telah terbuka yang pertama kulihat adalah atap bewarna
putih. Lalu disusul dengan warna hijau selimutku dan wajah-wajah yang tak ku
kenali.
“Bagaimana
perasaan anda saudari Shasha?” tanya salah satu dari mereka yang sepertinya
Dokter padaku.
“Dimana
saya? Tanyaku. Suaraku terdengar serak, mungkin aku butuh sedikit air untuk
melancarkannya. Rupanya dokter itu mengerti dan menyuruh seorang suster untuk
membantuku minum.
“Terimakasih,
saya rasa saya baik-baik saja. Saya ada dimana? Apa yang terjadi pada saya?”
“Saudari
mengalami kecelakaan lima hari yang lalu, saudari menderita patah tulang di
beberapa tempat dan pendarahan di kepala yang cukup parah. Beruntung saudari di
bawa kesini tepat waktu” jelas Dokter panjang lebar. Apa? Kecelakaan? Lima hari
yang lalu? Lalu perlahan-lahan aku ingat,
aku tertabrak mobil berkecepatan tinggi saat berada di perempatan dan kemudian
tidak sadarkan diri.
“Dok,
siapa yang membawa saya kesini?” tanyaku
“Penduduk
di sekitar sana yang membawa anda kesini. Sekarang, jika anda merasa lebih baik
akan saya panggilkan keluarga anda. Dia sudah menunggu anda sadar sejak tiga
hari yang lalu”. Perkataan Dokter tersebut membuatku bertanya-tanya siapa yang
menungguku? Apakah itu Ibu? Jika iya apa yang harus aku katakan padanya? Apakah
aku harus menceritakan padanya tentang Ayah?. Belum selesai aku berpikir, sudah
terdengar langkah-langkah yang mendekati kamarku. Ternyata itu adalah Paman.
Aku lega sekaligus bingung, lega karena tidak harus menghadapi Ibu sekarang dan
bingung kenapa Paman yang ada disini? Dimana Ibu?.
Paman
tidak mengatakan apa-apa saat aku bertanya. Dia hanya bilang untuk
berkonsentrasi pada kesembuhanku dulu. Nanti jika sudah sembuh dia akan
menjawab semua pertanyaanku. Aku tambah bingung dan khawatir apa yang
sebenarnya terjadi pada Ibu?. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa karena Paman
tetap membisu meski telah berkali-kali aku bertanya.
Beberapa
hari kemudian saat keadaanku mulai membaik, Paman menjemputku di rumah sakit
dengan mobilnya. Kemudian dia mengajakku makan di sebuah restoran keluarga
ternama. Memang, beda dengan Ibu dan aku yang hidup sederhana keluarga Paman
bisa dibilang termasuk kelas menengah ke atas.
Waktu
makan bersama Paman aku tak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi pada Ibu.
Tapi aku tetap diam dan menunggu karena aku tahu kalau Paman sedang menunggu
waktu yang tepat untuk memberi tahuku. Selesai makan Paman mengajakku menuju
sebuah rumah sakit. Aku masih tidak mengerti apa sebenarnya tujuan Paman
mengajakku kesini? Sesampainya disana Paman langsung menuju kedalam dia hanya
menyuruhku untuk mengikutinya karena dia ingin menjenguk seseorang disini.
Kami
tiba diruang isolasi, tempat sementara bagi para pasien yang mengidap gangguan
jiwa. Bagi mereka yang penyakitnya sudah parah akan dikirim menuju rumah sakit
jiwa. Lalu Paman berbalik padaku dan menatapku lekat-lekat.
“Shasha,
tahukah kamu siapa yang akan kita jenguk disini?” tanya paman tiba-tiba.
“Aku
tidak tahu Paman” jawabku berbohong. Karena dalam hati aku sudah menebak siapa
tapi aku tak sanggup jika hal itu memang benar-benar terjadi.
“Shasha,
tabahkanlah hatimu... kemarin tiga hari yang lalu, saat kau tidak sadar dan
kabar kalau kau kecelakaan sampai pada kami Ibumu shok dan terpukul. Dia terus
bilang bahwa kau sudah berjanji agar bergegas pulang. Lalu kemudian penyakitnya
kambuh, dan disinilah dia sekarang” ini kedua kalinya kata-kata Paman membuatku
terkejut. Ibu shok? Penyakitnya kambuh? Apa jangan-jangan...
“Shasha
kenapa kamu diam saja? Kamu jangan sedih, ini bukan kesalahanmu. Mungkin kau
belum tahu karena Ibumu merahasiakannya darimu tapi sebenarnya Ibumu menderita
gangguan jiwa. Penyakit ini diturunkan turun-temurun di keluarga kami dan
kebetulan Ibumu mewarisinya. Dulu Ibumu sering kambuh tapi setelah kehadiranmu
dia berusaha untuk menyembunyikan tersebut. Mungkin shok akibat kabar kecelakaanmu membuat
dia tak dapat menyembunyikannya” ujar Paman
padaku. Apa? Apa kata Paman tadi? Ibu menderita sakit jiwa karena keturunan?
Penyakit Ibu sering kambuh? Apa itu artinya aku yang menyebabkan Ibu menjadi
seperti ini?. Tanpa sadar aku menangis sesenggukan.
Tuhan,
setelah semua yang Ibu lakukan untukku beginikah balasanku padanya? Dengan
membuatnya dikirim ke rumah sakit jiwa? Kenapa Tuhan? Kenapa harus Ibu?
Kenapa?. Paman menyuruhku tenang dan menahan kesedihan, dia bilang kami akan
segera bertemu dengan Ibu dan memintaku untuk tetap tegar.
Perlahan,
kami berdua memasuki kamar tersebut. Sepertinya Paman sudah membuat perjanjian
dengan petugas karena kami langsung masuk. Di dalam ruang tersebut terdapat
beberapa kamar. Semua kamar tersebut memiliki pintu besi yang tebal dengan
jendela jeruji serta pintu kecil dibawah untuk memasukkan makanan. Kesan
pertama yang ku dapatkan adalah kesedihan dan keputus-asaan yang terasa kental
menggantung di udara.
Kami
tiba di kamar yang terletak di ujung pojok kiri ruangan tersebut. Tidak seperti
ruang-ruang sebelumnya yang terdengar teriakan, tangisan atau orang tertawa
dari dalamnya kamar ini sangat sepi seperti tidak ada orang di dalamnya.
Paman menunjuk kamar
tersebut dan memberi isyarat padaku agar melihat apa yang ada di dalamnya.
Dengan penuh rasa takut dan harap aku melihat dari balik jendela berjeruji. Nafasku
tercekat melihat apa yang ada di dalamnya. Ibu duduk di pinggir ranjang sambil menunduk.
Rambutnya terurai acak-acakan menutupi wajahnya.
Aku menatap Paman dengan tatapan
sedih. Paman lalu mengangguk dan berbicara pada petugas disana agar membiarkan
kami berbicara pada Ibu. Petugas itu lalu membuka kamar tempat Ibu berada dan
mempersilahkan kami masuk ke dalam…
Aku menahan air
mataku yang hendak jatuh saat aku mendekat ke arah Ibu. Petugas memperingatkan
aku agar berhati-hati karena keadaannya masih mengkhawatirkan tapi aku tak
menghiraukan peringatan itu, lagi pula ini Ibuku sendiri tak mungkin dia
menyakitiku. Aku berlutut di depan Ibu dan melihat ke wajahnya. Perasaan sedih
yang ku rasa semakin menjadi-jadi saat aku melihat wajah Ibu yang tirus dan
mata yang menatap kosong seakan tiba-tiba Ibu menjadi 10 tahun lebih tua dari
usia yang sebenarnya. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berbicara padanya
“Ibu, ini bagaimana
keadaan Ibu? Ini Shasha Bu, maaf Shasha terlambat datang. Ibu tak perlu
khawatir, Ibu pasti segera keluar dari sini”. Ibu tetap tak bergeming mendengar
kata-kataku. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja.
“Bu, Shasha
sudah bertemu dengan Ayah.. Ibu benar, seharusnya Shasha tidak menemuinya. Ibu
benar tentang semuanya, Shasha minta maaf Bu…” aku mulai terisak di depan Ibu.
Ini percuma saja, ibu tidak akan pernah meresponku. Apa yang sudah kulakukan?
Inikah balasan yang kuberikan untuk kasih saying Ibu padaku selama ini? Dengan
membuatnya menjadi gila?
“Shasha…” ujar
Ibu dengan suara parau. Dengan penuh harap aku melihat ke wajah Ibu. Aku
terkesiap, mata ibu… mata ibu seperti menjadi liar, berputar-putar tanpa
kendali. Lalu Ibu mulai meracau tidak jelas sambil memaki-maki. Sesaat kemudian
Ibu mulai tenang dan menatap padaku.
“Ibu…apa Ibu…”
belum selesai aku berbicara Ibu berteriak keras sekali dan menjambak rambutku.
Dia terus menarik-nariknya hingga aku menjerit kesakitan. Petugas dibantu oleh
Paman berusaha memisahkan kami, tapi tangan Ibu begitu erat mencengkeram
rambutku. Lalu petugas tersebut mengeluarkan gunting dan menggunting rambutku.
Paman lalu menarikku menjauh dan keluar dari ruangan itu, sementara petugas
masih berusaha menenangkan Ibu yang mengamuk…
Tubuhku masih gemetaran saat Paman
memapahku menuju mobil. Dia menatap prihatin padaku saat aku mulai menangis.
Aku merasa sangat sedih, sekarang dengan siapa aku akan tinggal? Siapa yang
akan memasakkan aku makanan kesukaanku? Siapa yang akan aku ajak bercerita
tentang hari-hari yang aku alami di sekolah? Siapa yang akan mengambil raporku?
Banyak pertanyaan yang berkecamuk di
benakku yang aku tak yakin mampu menjawabnya. Ku biarkan air mata yang sejak
tadi aku tahan tertumpah. Tuhan, bukankah Engkau berfirman bahwa Engkau tidak
menimpakan ujian kepada seseorang melebihi kemampuannya? Sungguh, ini semua
melebihi kemampuanku…
Paman menepi di
sebuah kafe dan membelikanku minuman hangat. Perlahan dia mengatakan padaku
bahwa aku tidak boleh terus-menerus bersedih. Dan aku tidak perlu khawatir akan
pendidikanku dan dimana aku akan tinggal. Karena mulai sekarang aku bisa
tinggal dengannya dan dia yang akan membiayaiku sampai aku lulus kuliah.
Sejenak aku merasa seakan ada beban berat yang diangkat dari pundakku tapi aku
lalu teringat pada Bibi dan kakak sepupuku Icha tidak begitu menyukaiku. Aku
menghela nafas panjang dan bilang pada Paman kalau aku bersedia…
Hari-hari
kulalui dengan perlahan dan tidak menyenangkan setelah kepindahanku ke rumah
Paman. Rupanya, apa yang aku khawatirkan terbukti Bibi dan kakak sepupuku tidak
menyukaiku. Mereka memperlakukan aku seperti pembantu dan menyuruhku
membereskan pekerjaan rumah. Tapi aku sudah bersyukur karena setidaknya mereka
memberiku makan, dan tempat bernaung. Mereka juga mengajakku jalan-jalan saat
hari libur. Setidaknya apa yang aku alami disana tidak separah yang aku
bayangkan. Hanya saja seringkali aku harus bersabar dengan kelakuan kakak
sepupuku, dia begitu egois dank eras kepala. Bahkan kepada Bibi atau Paman dia
tidak mau mengalah. Kerapkali aku menjadi kambing hitam kesalahan yang dia
lakukan.
Aku berusaha
sabar menghadapinya karena sebenarnya dia gadis yang baik, hanya saja dia
kurang mendapat perhatian karena Paman bekerja di kantor dan Bibi menjadi kepala
sekolah sebuah SMP. Dia sering mengeluh padaku tentang hidupnya padahal
menurutku hidupnya sempurna sekali karena dia mempunyai apa yang aku inginkan,
sebuah keluarga yang utuh. Lama-kelamaan dia semakin menjadi-jadi dan mulai
sering pulang malam. Saat ditanya dengan santai dia bilang kalau dia habis clubbing. Bahkan pernah dia pulang dalam
keadaan mabuk dan muntah di ruang tamu.
Paman dan Bibi
berusaha untuk mengubahnya mulai dari cara yang halus seperti menasihatinya
sampai cara keras seperti mengurungnya di rumah atau tidak memberinya uang
saku. Suatu malam saat Bibi dan Paman sedang keluar ke pesta perkawinan teman
mereka dia memintaku untuk membelikannya obat pusing yang cukup banyak karena
dia merasa tidak enak badan. Tanpa prasangka apa-apa aku menurutinya. Tapi saat
aku pulang suasana rumah sepi, aku menjadi curiga dan memanggil namanya tapi
tak ada sahutan. Saat aku memeriksa kamarnya seketika aku terkejut. Kakak
sepupuku terbaring di lantai dengan mulut berbusa, di tangannya terdapat
suntikan yang tidak pernah kulihat. Dengan panik aku segera menghubungi Paman dan Bibi
lalu menelepon ambulans. Paman dan Bibi datang bersamaan dengan ambulans.
Di rumah sakit Bibi terus-menerus
menangis sementara Paman mondar-mandir dengan gelisah menunggu Dokter keluar
dari ruang UGD. Menit demi menit berlalu begitu lambat seakan sudah berjam-jam
lamanya. Aku sendiri hanya diam dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan
Icha.
Dua
jam kemudian pintu ruangan itu terbuka dan Dokter berjalan keluar.
“Siapa
keluarga dari Saudari Icha?” tanyanya,
“Saya Dok,” jawab Paman
“Maaf, kami sudah berusaha sekuat tenaga tapi nyawanya tidak dapat tertolong...” ucapan Dokter membuat Bibi langsung menjerit histeris, sementara kulihat Paman terpaku dan kehilangan kata-kata. Aku berusaha menghibur Bibi tapi dia menepis tanganku dan menatapku dengan tatapan benci
“Ini semua salahmu!!! Kalau kamu tidak meninggalkan Icha sendirian di rumah dia tidak akan meninggal! Kenapa? Kenapa kamu meninggalkan dia? Apa kamu sengaja karena kamu sudah mengharapkan begini jadinya sehingga kamu bisa merebut perhatian kami?!” kata-kata Bibi menohok hatiku.
“Tidak Bi, aku tadi di mintai tolong Icha untuk membeli obat di toko. Aku tidak pernah bermaksud seperti itu Bi, aku juga menyayangi Icha sama seperti aku menyayangi saudara kandungku sendiri...” jelasku pada Bibi
“Aku tidak peduli! Aku tidak mau melihatmu di rumahku lagi!” seketika aku terpaku, ini pasti mimpi kan? Bibi mengusirku? Ini tidak mungkin nyata. Dengan cemas aku melihat ke arah wajah Paman yang menyiratkan kesedihan dan kekecewaan. Paman pasti juga kecewa padaku sama seperti Bibi.
“Saya Dok,” jawab Paman
“Maaf, kami sudah berusaha sekuat tenaga tapi nyawanya tidak dapat tertolong...” ucapan Dokter membuat Bibi langsung menjerit histeris, sementara kulihat Paman terpaku dan kehilangan kata-kata. Aku berusaha menghibur Bibi tapi dia menepis tanganku dan menatapku dengan tatapan benci
“Ini semua salahmu!!! Kalau kamu tidak meninggalkan Icha sendirian di rumah dia tidak akan meninggal! Kenapa? Kenapa kamu meninggalkan dia? Apa kamu sengaja karena kamu sudah mengharapkan begini jadinya sehingga kamu bisa merebut perhatian kami?!” kata-kata Bibi menohok hatiku.
“Tidak Bi, aku tadi di mintai tolong Icha untuk membeli obat di toko. Aku tidak pernah bermaksud seperti itu Bi, aku juga menyayangi Icha sama seperti aku menyayangi saudara kandungku sendiri...” jelasku pada Bibi
“Aku tidak peduli! Aku tidak mau melihatmu di rumahku lagi!” seketika aku terpaku, ini pasti mimpi kan? Bibi mengusirku? Ini tidak mungkin nyata. Dengan cemas aku melihat ke arah wajah Paman yang menyiratkan kesedihan dan kekecewaan. Paman pasti juga kecewa padaku sama seperti Bibi.
“Kita
tidak boleh bertindak semena-mena Sonia, kita harus memikirkan akibat dari
setiap tindakan kita. Aku mengerti kalau kamu sedih karena kepergian Icha tapi
tidak berarti kamu bisa menuduh Shasha yang bersalah atas semua ini.
Bagaimanapun juga kematian sudah diatur
oleh yang Maha Kuasa.” Ujar Paman berusaha menenangkan Bibi.
“Tetap saja aku tidak mau melihatnya di rumah lagi Win! Aku tidak sanggup melihatnya bahagia dan menjalani kehidupan seperti anak-anak lainnya sementara putri kita tidak dapat merasakannya! Kau mungkin tidak akan mengerti hal ini, tapi aku adalah seorang Ibu, cukuplah kehilangan ini menyakitkanku jangan kau tambah lagi...” Isak Bibi pada Paman. Paman lalu menatap dalam-dalam padaku. Saat itu juga aku tahu bahwa akulah yang kalah...
“Tetap saja aku tidak mau melihatnya di rumah lagi Win! Aku tidak sanggup melihatnya bahagia dan menjalani kehidupan seperti anak-anak lainnya sementara putri kita tidak dapat merasakannya! Kau mungkin tidak akan mengerti hal ini, tapi aku adalah seorang Ibu, cukuplah kehilangan ini menyakitkanku jangan kau tambah lagi...” Isak Bibi pada Paman. Paman lalu menatap dalam-dalam padaku. Saat itu juga aku tahu bahwa akulah yang kalah...
Beberapa bulan setelah itu aku di
masukkan ke sebuah pondok dan sekolah oleh Paman. Paman bilang aku sekolah
disana agar aku lebih mengerti pelajaran agama. Tapi aku tahu kalau sebenarnya
semua ini demi Bibi. Paman memang selalu baik hati dan tidak mau menyakiti
perasaan orang lain. Paman sering sekali membantuku saat aku sedang dilanda
kesusahan. Jadi kali ini aku yang akan membantunya. Aku menurut saja saat Paman
mendaftarkanku di sebuah pondok yang cukup jauh jaraknya. Aku sudah bersyukur
aku tidak di telantarkan atau disuruh mengemis di pinggir perempatan jalan.
Di
pondok aku mengalami kesulitan dalam berdaptasi dengan lingkungan dan
pelajarannya. Aku merasa kelelahan mengikuti teman-temanku yang rata-rata sudah
mepunyai ‘dasar’ dalam pelajaran nahwu sedangkan aku sama sekali tidak
memahaminya. Memang, ada beberapa anak seperti aku yang sama-sama pemula dalam
hal ini, tapi masih ada masalah
lingkungan. Rata-rata semua temanku yang ada disana memiliki latar belakang
keluarga yang kaya. Otomatis aku kesulitan beradaptasi dengan pola pikir serta
gaya hidup mereka yang mewah. Hal ini membuatku dikucilkan dan hampir tidak
memiliki teman. Yah, hampir....
Aku mengatakan hampir karena
sebenarnya aku punya dua orang yang dekat denganku. Yang satu adalah Eva dan
satunya adalah Rizal. Eva adalah anak perempuan yang tomboi dan tidak suka
diatur. Dia selalu melanggar peraturan yang ada dan sering membolos pelajaran
untuk merokok. Sedangkan Rizal adalah kakak seniorku, ketua pondok putra. Aku
jarang bertemu dengannya tapi aku cukup dekat dengannya terus terang saja aku
menyukainya dan sepertinya dia juga menyukaiku.
Saat
peraturan dan keadaan di pondok membuat pikiranku benar-benar kalut, aku sering
menerima tawaran Eva untuk merokok bersamanya. Pertama kali aku mencobanya
memang terasa tidak nyaman dan aku hanya mampu menghabiskan dua batang saja.
Sekarang aku sudah biasa dan mampu menghabiskan hampir satu pak sendirian.
Seringkali Rizal menegurku dan
menyuruhku untuk berhenti merokok tapi aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur
kecanduan rokok. Rasanya yang manis dan menyesakkan membuatku tak mampu
berhenti. Disamping itu rokok juga merupakan jalanku untuk sejenak melarikan diri
dari masalah.
Tapi
benar kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga.
Sepandai-pandainya kami merokok sembunyi-sembunyi akhirnya ketahuan juga. Aku memang Cuma diperingatkan dan dihukum
membersihkan seluruh kamar mandi tetapi Eva terancam di keluarkan karena ini
bukan pertama kalinya dia ketahuan melanggar peraturan.
Hukuman
ini berdampak buruk bagiku. Karena saat itu aku sedang dalam keadaan tidak
sehat maka aku jatuh sakit dan harus dirawat inap. Aku terbaring di rumah sakit
selama 3 minggu penuh. Ketika kembali ke pondok aku tidak menemukan Eva
dimanapun. Setelah bertanya ke teman sekamarku ternyata dia sudah dikeluarkan
dari pondok karena ketahuan saat hendak kabur bersama pacarnya. Dan yang lebih
membuatku sedih adalah Rizal yang sejak hari aku ketahuan merokok sampai saat
itu tetap tidak mau menyapaku.
Aku
menjadi frustasi dengan keadaan yang aku alami dan melarikan diri dengan
merokok lagi. Semakin lama aku semakin menjadi-jadi. Aku mulai tidak peduli
pada nasihat ustadku. Bahkan nasihat Paman hanya seperti angin lalu untukku.
Kemudian hal yang paling buruk terjadi. Aku dikeluarkan dari pondok. Saat itu
aku sama sekali tidak merasakan apapun. Semua terasa hambar. Beginikah rasanya
mati rasa?
Paman
yang bingung pada keadaanku lalu menempatkanku bersama nenekku dan dua kali
dalam sebulan menjengukku. Memang setelah itu aku berhenti berulah dan mulai
bekerja sambilan tapi aku tidak mampu menghentikan kebiasaanku untuk merokok.
Begitulah, malam ini semua ingatan itu kembali. Dalam hati aku tahu aku
menyesali kesalahan yang telah aku perbuat
terutama apa yang terjadi pada Ibuku. Aku masih menganggapnya merupakan
kesalahanku tapi aku tahu tak ada gunanya untuk menyesal. Semua sudah terjadi dan
tak mungkin terulang kembali. Aku hanya mampu untuk berusaha menata masa
depanku. Perlaha kuhisap rokok di
bibirku meresapi manis dan sesak yang diberikannya. Di sampingku terdengar
musik yang kuputar memasuki bait-bait terakhirnya seperti sebuah salam
perpisahan pada rindu akan kasih sayang yang tak terbalaskan...
“...selalu ada yang bernyanyi dan berelegi di balik awan hitam, semoga ada yang menerangi sisi gelap ini, menanti seperti pelangi..setia menunggu hujan reda...”
“...selalu ada yang bernyanyi dan berelegi di balik awan hitam, semoga ada yang menerangi sisi gelap ini, menanti seperti pelangi..setia menunggu hujan reda...”
Ummu Masyithoh
Komentar
Posting Komentar